BREAKING NEWS
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Saturday, October 22, 2022

Membumikan Literasi Di Tanah Jabar Juara Literat

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggiatkan Gerakan Literasi Nasional sejak tahun 2016,sebagai bentuk implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti.

Membumikan Literasi di Tanah Jabar Juara Literat
sumber foto: Penulis

 

Dikutif dari https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/tentang-gln/ , bahwa Gerakan Literasi Nasional (GLN) adalah sebuah upaya untuk memperkuat sinergi antar unit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia.

Kemudian pada tahun 2017,Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK),menggagas sebuah gerakan dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca dan tulis,yaitu gerakan Satu Guru Satu Buku atau disingkat SAGUSABU.

Antusiame semua elemen,sangat luar biasa dalam menyambut gerakan Satu Guru Satu Buku ini.Dengan gerakan SAGUSABU,sudah banyak melahirkan bapak dan ibu guru penulis,baik secara mandiri maupun melalui bimbingan para penggerak literasi serta instansi yang peduli dengan gerakan ini.

Gerakan menulis buku ini adalah gerakan yang positif dan berdampak sangat luar biasa bagi pengembangan kompetensi guru.Dengan menulis,bapak dan ibu guru memperoleh manfaat sebagai berikut:

1. Meningkatkan Kompetensi

Dengan menulis,kompetensi seorang penulis inshaallah akan meningkat.Kenapa demikian,karena seorang penulis adalah seorang pembelajar.Semakin banyak belajar akan semakin banyak juga kompetensi yang diperoleh.Bagaimanakah seorang penulis belajar?Seorang penulis akan belajar dengan beberapa cara,diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Sering membaca
Dengan seringnya seorang penulis membaca karya penulis lain,atau sering membaca buku-buku lain sebagai referensi,seorang penulis akan menemukan kosa kata baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan.

Dengan sering membaca,apalagi buku yang dibaca adalah buku-buku yang berkwalitas,maka sang penulis akan termotivasi untuk menghasilkan buku yang berkwalitas juga.Tujuan akhirnya,kompetensinya semakin meningkat.

b. Sering menulis
Dengan sering menulis,seorang penulis akan 
  • Banyak belajar dalam menuangkan ide dan gagasan
  • Memperkuat daya ingat
  • Hidupnya menjadi lebih produktif
  • Meningkatkan kemampuan linguistik
  • Sering mengikuti event-event lomba

Event-event lomba menulis saat ini banyak sekali ditemukan,baik lomba menulis gratisan maupun lomba menulis yang berbayar.Event-event tersebut bisa ditemukan di berbagai platform media sosial seperti di instagram maupun platform media sosial lainnya.

Manfaatkan event lomba menulis tersebut,sebagai media untuk meningkatkan kompetensi.Dengan banyak mengikuti lomba,imajinasi kita akan terasah,keterampilan menulis pun semakin meningkat.

2. Meningkatkan Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ) seering digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah,memahami suatu hal,serta mempelajari sesuatu.

Nah,menulis adalah sebuah media untuk meningkatkan kecerdasan intelektual.Karena dengan sering menulis :
a) Kemampuan belajar seseorang akan meningkat
b) Mempertajam pikiran
c) Mengingat apa saja yang ditulisnya
d) Menambah wawasan

3. Menunjang Jenjang Karir

Bagi seorang PNS,menulis adalah salah satu instrumen yang dapat dipergunakan dalam usulan pengajuan kenaikan pangkat.Dengan mempublikasikan karyanya,baik berupa buku,Jurnal,Prosiding,atau menulis di media masa bisa diajukan untuk mendapatkan angka kredit.Dari angka kredit tersebut,dapat dijadikan penunjang usulan kenaikan pangkat atau jabatan.

4. Membangun Personal Branding

Personal Branding adalah upaya untuk membangun bagaimana diri dilihat oleh orang lain atau upaya membangun citra atau pencitraan.Jangan dulu menjudge kata pencitraan dengan sesuatu yang negatif,karena tidak semua orang atau lembaga yang membuat pencitraan itu untuk hal-hal yang dianggap sebagian orang sebagai sebuah pencitraan yang negatif.

Personal branding ada dan perlu bagi semua profesi,begitu pun dengan seorang penulis.Pentingnya Personal branding bagi seorang penulis adalah untuk:

a) Identitas sang penulis
b) Ciri khas yang dimiliki sang penulis
c) Meningkatkan rasa percaya diri penulis
d) Memperluas jaringan atau networking sang penulis
Mari kita bumikan literasi di tanah sang juara literat.

Jabar juara literat!

Salam literasi!



( Pernah dimuat di http://beritadisdik.com/news/pesona/membumikan-literasi-di-tanah-jabar-juara-literat tanggal 20 Oktober 2022)

Monday, October 10, 2022

Asesmen yang Memberdayakan

"Besok ulangan , Ya "

Tentu Anda sebagai guru pernah memberikan pengumuman seperti itu.. 

Pernahkah Anda mengamati bagaimana respon mereka?Adakah diantara mereka yang berteriak kegirangan, atau menunjukan antusiasme dan rasa gembira? Selama saya menjadi guru, belum terlihat sih respon seperti itu. Yang ada adalah raut wajah, bete, datar bahkan sebagian tampak kecewa, seakan-akan mereka baru mendengar kabar buruk yang akan menimpa mereka. 

Sumber foto: Pribadi Penulis

Mudah-mudahan itu hanya pengalaman saya saja, dan bukan pengalaman Anda. 

Setelah pengumuman itu, satu dua anak yang nyeletuk. 

"Pak, soalnya pilihan ganda? "

"Ada eseinya gak, Pak? "

Dari pertanyaan seperti itu, siswa sudah bisa menebak, kalau ulangan berarti menjawab soal pilihan ganda. Benar, ulangan selalu identik dengan menjawab soal pilihan ganda, karena guru memang tak memberi pilihan lain. 

Kekecewaan siswa, sebenarnya kekecewaan saya juga. Terutama setelah selesai ulangan. Meski telah mencoba merancang soal semudah mungkin, hasilnya jauh dari ekspektasi. Sayangnya, saya ikut menambah kekecewaan mereka dengan mengumkan peroleh nilai. Alih-alih memberi motivasi agar lebih baik belajar, cara itu malah mempermalukan sebagian siswa. 

Hasil dan ulangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi itu yang mendorong saya melakukan refleksi. Hasil refleksi itu kemudian mendorong saya melakukan penilaian dengan beragam cara. 

Sebuah tulisan seorang guru di Komunitas Guru Belajar tentang asesmen, menjadi awal mulai mengubah ulangan harian menjadi model asesmen. Asesmen adalah cara menilai yang tidak hanya melihat hasil di akhir, tapi juga diawal, selama proses dan setelah pembelajaran. Asesmen memungkinkan guru memberi penilaian secara berkesinambungan.. 

Menariknya, asesmen memiliki ragam cara yang tidak hanya terpaku pada satu cara, yaitu dengan ulangan tulis saja. Asesmen bisa dalam bentuk pameran karya, proyek , atau portofolio. Ragam cara yang memungkinkan siswa dan guru menilai siswa lebih adil dan fleksibel sesuai dengan kemampuan siswa. Setidaknya ada beragam pilihan yang membuat siswa tertantang. 

Setelah memahami ragam dan tujuan asesmen, saya menerapkannya dalam proses pembelajaran. Diawal dengan memberikan paparan tentang hasil refleksi, hal-hal yang membuat siswa memperoleh nilai yang kurang memuaskan, serta perlunya siswa melakukan cara lain untuk menunjukkan kemajuan belajar. 

Salah satu bentuk asesmen misalnya, memberikan mereka tugas projek sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hasil yang diperoleh relatif lebih baik. Setidaknya saya bisa melihat kompetensi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil dari kegiatan asesmen bukan sekali jadi, siswa diberi kesempatan untuk memperbaiki melalui umpan balik yang saya berikan. 

Jadi, setelah saya memahami dan mempraktikkan asesmen, saya jarang membuat pengumuman kejutan seperti yang saya tulis di awal. 

Untuk memahami lebih dalam dan lebih jelas, Anda bisa membaca modul tentang "asesmen formatif merdeka belajar". Kabar baiknya saat ini disediakan diskon  menarik selama TPN 9. Hmmm...penasaran kan? 

 Jadi, ayo buruan akses modulnya  di sini ya https://bit.ly/modultpn9ia.

Thursday, September 29, 2022

MUHASABAH HATI

Dengan penuh kesadaran diri dan dengan segala kerendahan hati,saya menyadari bahwa hanya Alloh-lah yang memiliki segala kesempurnaan, sehingga tentu masih banyak lagi rahasiah-Nya yang belum tergali dan belum kita ketahui, Oleh karena itu saya tidak segan-segan memohon kepada siapa saja yang membaca artikel ini, sudi kiranya untuk membantu meluruskan kata-kata yang dikira tidak pantas atau tidak layak, saya akan sangat berterima kasih atas kritikan atau saran dari teman-teman, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan sinergi yang lebih baik untuk tulisan -tulisan saya, dan akan membuat pemikiran biar lebih sempurna di masa yang akan datang, saya ingin tulisan saya bermanfaat walau masih dalam taraf belajar, hingga ke depan kita lebih banyak saling  memahami tanpa kehilangan karakter dalam memandang pemahaman masing-masing,

Muhasabah Hati


Dalam situasi sehari-hari, pro dan kontra pasti ada, sudah menjadi hukum alam, selalu berpasangan, situasi sehari-hari dalam proses hidup harus kita jalani, untuk solusinya kita harus bijak menghadapi situasi apapun.
Tindakan seseorang sangat bergantung oleh alam pikirannya. Setiap orang diberikan kebebasan untuk memilih responnya masing-masing, ia bertanggungjawab penuh atas sikap yang ditimbulkan dari pikirannya, bukan lingkungan disekelilingnya, namun lingkungan  ikut serta berperan dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang.  Apabila lingkungannya pahit, maka menjadi pahit, selalu curiga, dan seringkali berprasangka negatif kepada orang lain. Pikiran negatif ini akan semakin bertambah dan kian menguat apabila sistem lingkungannya mendukung, misalnya memberi hasutan, isu, provokasi, atau tidak memberi solusi baik terhadap keadaan, prasangka negatif akan mengalir dan berubah menjadi sikap “defensive” dan  tertutup, karena beranggapan bahwa orang lain musuh dan ancaman berbahaya. Cenderung menahan informasi baik dan menolak bekerja sama, yang pada akhirnya diri sendiri mengalami kerugian, seperti turunnya kinerja, tidak mampu melakukan sinergi dengan orang lain, peluang-peluang emas terlewatkan, malu meminta bantuan, bahkan mungkin akan tersingkir di tengah pergaulan sosial. 
Sebaliknya, orang yang memiliki suara hati merdeka, akan lebih mampu melindungi pikirannya. Ia mampuh memilih respon positif di tengah lingkungan paling buruk sekalipun. Ia akan tetap berpikir positif dan selalu berprasangka baik pada orang lain. Ia mendorong dan menciptakan kondisi lingkungannya untuk saling percaya, saling mendukung, sikap terbuka dan kooperatif. Hasilnya adalah “aliansi cerdas” yang akan menciptakan performa puncak. Dia- lah raja dari pikirannya sendiri.
Untuk tulisan seperti ini, penulis tidak bermaksud menggurui siapapun, membaca tulisan yang berisi ajakan kebenaran kadang akan menimbulkan polemik, namun dahulukan pikiran obyektif, jernihkan pikiran dari hama yang mempengaruhi obyektifitas penilaian, tidak perlu berpikir, ini tulisan dakwah, atau jangan berpikir bahwa tulisan ini mendoktrin pembacanya terhadap satu masalah.
Pergunakanlah suara hati yang terdalam sebagai suatu kebenaran, yang merupakan karunia Alloh SWT.
Fokus pada tulisan, agar kendala pemahaman makna bisa diatasi.
_"Aku selaras dengan sangkaan hamba-ku terhadap Aku  dan bersama dengan hamba-Ku ketika dia mengingat Aku"_
( Hadits Qudsi)

Wallohu’ alam bishowab…

Muhasabah Diri:

“Kebanyakan dari mereka hanya mengikuti dugaan semata.
Sungguh dugaan tiada berguna sedikitpun melawan kebenaran.
Sungguh Alloh mengetahui segala yang mereka lakukan.”
(Q.S Yunus, ayat 36)

“Sama sekali bukan!
Tetapi hati mereka telah dikuasai oleh apa yang mereka lakukan.”
(QS. Al Muthfafifin, ayat 14)

“Jika Alloh mengetahui dalam diri mereka ada kebaikan, tentulah dijadikan-Nya mereka mendengar. Tetapi sekalipun (Alloh) memjadikan mereka mendengar, mereka akan berbalik juga dan berpaling.”
(QS.Al Anfal, ayat 23).

Penulis
Neneng Rahmia- SMPN 1 Cipeundeuy

Sunday, September 25, 2022

JURUS JITU MELURUSKAN KALBU

“Apabila manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam-macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu dengan manusia di dunia dan dekat dengan Alloh di akhirat”

- Al Hadis –

Setelah bertahun-tahun berada dalam’ pencarian’ jati diri, ditempa dengan berbagai pengalaman hidup, dari kecil hingga dewasa, memendam berbagai perasaan, senang, sedih, haru, tersakiti, terdzolimi, tersanjung, seperti kata sebuah ikllan permen:  “nano-nano, ramai rasanya”.


Ditempa berbagai keadan kadang hati merasa’ kosong’, tidak selamanya hati bisa diajak berdamai, adakalanya berontak, meronta, membuat keputusan dan kesimpulan yang kemungkinan besar akan mencelakai diri sendiri, walaupun tidak terucap oleh teriakan lisan  , tidak tertulis dalam kertas dan pena, dan  tidak dilakukan oleh prilaku, namun hati memendam bisikan-bisikan yang mengarah pada kesesatan. Hal ini bila dibiarkan berlarut-larut bisa stres lebih jauhnya bisa gila, karena hati selalu mengigau tidak menerima keadaan yang dihadapi, namun tidak berani untuk mengungkapkannya.

Dengan penuh kesadaran diri dan dengan segala kerendahan hati, pada akhirnya hanya kekuatan do’a yang mampuh meluluhkan gejolaj-gejolak itu, hanya Alloh-lah yang memiliki segala kesempurnaan, sehingga tentu saja masih banyak lagi rahasia-Nya yang belum tergali.

Rosululloh menjawab.

“Beribadah kepada Alloh Azza Wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya dan seandainya engkau tidak dapat melihat-Nya, engkau yakin bahwa Dia melihatmu”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan dengan berbagai karakter orang, karena sebagai makhluk sosial hal ini tidak bisa kita hindari, berada di lingkungan masyarakat yang heterogen, dari berbagai aspek, usia, ekonomi, pendidikan, karakter yang berbeda-beda, semua harus kita jalani, apalagi kita tidak bisa mengelak, karena kadang karakter seseorang itu tidak bisa kita hindari, kalau seseorang mencintai kita maka kesalahan apapun akan selalu baik di mata mereka, sebaliknya kalau seseorang membenci kita, kebaikan apa pun akan terlihat buruk di mata dia.

 Suasana hati bisa sangat berkuasa atas wawasan, pikiran dan tindakan seseorang, Bila sedang marah , kita paling mudah untuk mengingat hal-hal atau kejadian-kejadia yang akan memunculkan dendam. Diri kita berusaha mencari obyek-obyek untuk melampiaskan kemarahan kita, kita akan mudah tersinggung dan mencari-cari alasan yang logis sebagaim ‘pembenaran’ dan rasionalisasi  penumpahan kebencian. 

Ketika kemarahan memuncak, suasana hati sering kali bergolak tak terkendali.Tekanan yang kian bertumpuk terus membengkak hingga mencapai titik batas, dan terus bertumpuk sehingga mendekati titik kritis yang tak tertahankan. Akibatnya, persoalan kecil yang biasanya tidak menimbulkan masalah apa-apa, akan berubah menjadi persoalan serius yang sangat mengesalkan hati, dan membuat kita akan resah dan menjadi gusar. Semua ketegangan menjadi bertumpuk, dan itulah hal yang membuat kita menjadi buta. Setelah meledak, barulah timbul penyesalan, tetapi terlambat karena ledakan itu telah terlontar dan mengenai orang lain

Pelatihan apa yang cocok untuk meluluhkan kalbu, mengendalikan diri?

“Sekiranya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya binasa langit dan bumi, dan sekalian makhluk di dalamnya.Tidak, Kami telah datangkan peringatan pada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan (yang diberikan kepada mereka).” QS Al Mu’minun (Orang Beriman) 23:71

Sebagai umat muslim yang taat akan ajaran Rukun Islam, harusnya sudah mengetahui sebuah pelatihan yang diwajibkan Alloh SWT untuk mengendalikan emosi yang berlebihan, salah satunya adalah dengan melaksanakan ‘PUASA’.

Tujuan akhir dari pengendalian diri yang dilatih dan dilambangkan dengan puasa sebenarnya adalah mencapai sebuah keberhasilan, bukan sebuah pelarian diri dari kenyataan hidup di dunia yang seharusnya dihadapi.

Tujuan puasa sebenarnya adalah “menahan diri”, dalam arti yang sangat luas. Menahan diri dari belenggu  ego duniawi yang tidak terkendali dan keluar dari garis orbit atau nafsu batiniah yang tidak seimbang. Kesemuanya itu apabila tidak diletakan pada pusat orbit yang benar  akan berakibat pada ketidaksembangan hidup, yang kemudian akan berakhir pada kegagalan dan kehancuran.

Secara umum, tujuan berpuasa adalah mencapai kemerdekaan sejati.

Merdeka dan bebas dari berbagai belenggu yang mengungkung hatinya.

Puasa adalah metode pelatihan rutin dan sistematis untuk menjaga fitrah manusia sehingga ia tetap memiliki kesadaran diri yang fitrah, dan akhirnya akan menghasilkan sebuah”Akhlakul Karimah”.

“Sungguh,sejahat-jahatnya makhluk menurut Alloh, ialah orang yang tuli dan bisu, orang yang tidak menggunakan akal.” QS Al Anfaal (Rampasan Perang) 8:22.

Puasa tanpa didahului dengan tujuan ( niat), hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Puasa harus didahului dengan Syahadat kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian dilanjutkan dengan sholat dalam urutan rukun Islam, barulah ibadah  puasa dilakukan. Artinya kita harus memahami seluruh perintah Alloh dan Rosul-Nya serta makna sholat sesungguhnya, sebelum kita melakukan puasa. Jadi, puasa tidak berdiri sendiri, namun satu kesatuan dari keseluruhan Rukun Iman dan Rukun Islam, agar selalu tetap memiliki kejernihan hati serta sekaligus merupakan pelatihan untuk menghentikan segala bentuk pengabdian selain kepada Alloh Yang Maha Esa.

Inilah bentuk pelatihan dahsyat dan sempurna yang metodenya langsung diberikan oleh Alloh SWT.

Seseotrang yang telah mampuh menghentikan pengabdian dirinya kepada selain Alloh, maka akan menjadi pribadi-pribadi yang hebat, yang akan meningkatkan seluruh potensi diri untuk menghasilkan yang terbaik dengan standar yang sangat tinggi dan tidak berhenti pada batasan duniawi yang relatif rendah, bahwa puasa adalah bentuk pelatihan untuk memelihara spiritual capital, dalam rangka memerdekaan diri dari belenggu emosi, pikiran dan egoisme.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu. Semoga kamu bertaqwa kepada Tuhan.” QS.Al Baqoroh (Sapi Betina) 2;183.

 

Penulis: Neneng R. Agustini, S.Pd

Guru Basa Sunda SMPN I Cipeundeuy 

Saturday, September 17, 2022

Guru Pahlawan Tanpa Tanda Tanya

Profesi guru merupakan salah satu profesi yang mulia. Di mana ilmu yang kita ajarkan kepada peserta didik jika bermanfaat akan menjadi amal jariyah bagi kita. Amal dari ilmu yang diajarkan semasa hidup akan terus terkirim kepada kita tak henti-hentinya walaupun kita sudah meninggal dunia sekalipun, jika ilmu itu bermanfanfaat bagi kehidupan orang yang kita ajarkan.

Guru Pahlawan Tanpa Tanda Tanya
Sumber gambar: Dokumen www.inankito.org

Akan tetapi, kondisi ini terkadang kita lupa. Terlupakan karena sudah ditutup oleh pikiran kita tentang banyaknya administrasi yang harus dikerjakan, memikirkan gaji yang belum dibayar, tunjangan belum cair, atau insentif tak kunjung diterima. Ditambah lagi ada masalah dari luar profesi kita, masalah keluarga dan teman. Banyak hal yang bisa membuat kita lupa hakikat jadi seorang guru.

Belum lagi ada peserta didik yang “bermasalah”, kurang disiplin, suka datang terlambat, kabur dari kelas, malas belajar dan kenakalan remaja lainnya. Cukup menambah beban pikiran seorang guru. Sehingga kita (guru) malas untuk mendidik dan mengajar. Namun di sinilah kita dapat mengukur diri kita. Apakah benar kita seorang guru?

Seperti yang sudah saya utarakan di  UU no.14 Tahun 2005 tentang guru. Guru ialah seorang pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dilihat dari pengertian ini, jelas guru itu harus bisa mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Jadi, ini memang sudah menjadi kewajiban kita. Kita tidak boleh mengeluh dalam menjalankan profesi sebagai guru.

Bapak/ibu #GuruHebat, tidak sedikit dari kita yang menjadi guru bukan karena panggilan jiwa atau bukan bercita-cita menjadi guru. Ada yang menjadi guru karena tidak dapat pekerjaan lain, sehingga jika mendapatkan tantangan dan halangan dalam mengajar dan mendidik langsung mengeluh. Akan tetapi ada yang menjadi guru karena memang merupakan panggilan jiwa untuk menjadi seorang guru. Hal ini tidak terlalu penting untuk kita bahas. Yang terpenting adalah setelah kita mendapatkan profesi menjadi guru, kita harus benar-benar dapat bekerja semaksimal mungkin. Sehingga kita layak disebut seorang guru Pahlawan Tanpa Tanda Tanya.

Salam dari Bandung Barat

Salinan, S.Pd
Guru SMPN Satu Atap Rimbakarya
Owner www.inankito.org


Friday, September 16, 2022

MODAL AWAL UNTUK MEMULAI MENULIS? SEDIAKAN 2M!

“Masa iya sih, modal awal untuk memulai menulis itu sampai 2M. Kalau sedemikian mahal, mendingan gak jadi penulis deh!”

Barangkali itu sebagian tanggapan yang terlontar manakala membaca judul di atas. Dan ujung-ujungnya, tidak jadi deh memulai menulisnya. Sabar... jangan dulu ambil kesimpulan sebelum tuntas membacanya,makanya daripada gagal paham,mari simak dengan baik pemaparannya.
 
Sumber Foto: Dokumentasi Salinan, S.Pd.

Baiklah,daripada dibikin penasaran,mari kita bahas apa yang di maksud dengan 2M tersebut.

Yang dimaksud dengan modal awal untuk memulai menulis adalah 2M di sini bukanlah 2 milyar.Modal untuk memulai menulis itu tidaklah sebesar itu nilainya,malah boleh dibilang modal awal untuk memulai menulis itu sangat murah dan mudah di dapat.Jadi makin penasaran nih, apa sih 2M yang murah dan mudah di dapat itu?Inilah jawabannya.

1. M yang pertama adalah “MAU”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),pengertian dari kata “MAU” adalah sungguh-sungguh suka hendak;suka akan;sudi.Dan kata turunannya adalah kemauan.Jadi jika kita sudah mengikrarkan diri mau menulis,maka kita sudah mau bersungguh-sungguh untuk memulai menulis.Dan itulah sebabnya kenapa M yang pertama adalah MAU,karena semua berawal dari sebuah kemauan.Kemauan seseorang untuk memulai menulis,dapat memotivasi dirinya untuk memulai menulis.Setelah orang mempunya kemauan untuk menulis,biasanya akan muncul sebuah rintangan,bukan rintangan dari orang lain,akan tetapi rintangan dari dirinya sendirinya.Makanya menulisnya tidak jadi-jadi.Nah,di antara rintangan tersebut di antaranya adalah:

a) Bingung darimana harus memulai

Mulailah dari apa yang ada di hati kita,lalu curahkan dalam bentuk tulisan.Atau mulailah dari pengalaman yang pernah dialami oleh kita.Tulislah!Abaikan rasa takut ini dan itu.Fokus saja sama yang ada dalam hati sampai selesai.Dan jangan terburu-buru,setelah selesai,lanjut pada tahap proffreading.Apa itu proofreading?Proofreading atau dengan kata lain uji baca adalah membaca ulang tulisan yang baru saja selesai kita tulis.Tujuannya adalah untuk memeriksa apakah dalam tulisan kita tersebut ada kesalahan atau tidak.

b) Takut salah

Berhubungan dengan rasa takut dalam menulis,ada beragam rasa takut misalnya:

1) Takut salah dalam cara penulisan

Untuk mengatasi rasa takut ini,ada beberapa hal yang bisa direkomendasikan.Seorang penulis harus memiliki :

a. PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)

b. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

c. Tesaurus

d. Berdiskusi atau bertanya kepada teman-teman di komunitas

2) Takut buku karyanya tidak dibaca orang

Diakui atau tidak, rasa takut buku kita tidak dibaca orang,ada dalam relung kita.Jangan patah semangat,teruslah menulis tanpa harus dibayang-bayangi hal tersebut.

3) Takut isi tulisan yang disampaikannya salah

Ini adalah pertanda yang bagus,karena sifat seorang penulis di antaranya adalah harus mempunyai rasa tanggungjawab moril dengan apa yang ditulisnya.Bukan berarti harus di dramatisir dengan rasa takut ini,akan tetapi jadikan rasa takut ini sebagai rambu-rambu dalam menulis agar kita senantiasa berhati-hati.

2. M yang kedua adalah “MAMPU”

Ketika kemauan kita sudah di eksekusi,dalam arti kita sudah mulai berani menulis,maka kemampuan sebagai turunan dari kata “Mampu”,akan spontan mengikuti,karena seorang penulis adalah seorang pembelajar.Dia akan mengatasi setiap kendala yang dihadapinya ketika sedang menulis.Dia akan belajar dan mencari solusi,sehingga kemampuannya terasah.Lalu pertanyaan lain muncul,”Dengan cara apa sih kemampuan itu terasah?”.Atau “Di tempat mana sih kemampuan itu dapat terasah?”.Kemapuan seseorang dapat terasah dengan cara:

a) Sering membaca buku karya orang lain

Dengan seringnya kita membaca buku karya orang lain,wawasan kita akan bertambah,kita akan menemukan kosa kata baru sebagai referensi kepenulisan kita,dan seribusatu manfaat lainnya.

b) Bergabunglah dengan komunitas penulis

Dengan bergabungnya kita di dalam komunitas kepenulisan,kita akan memperoleh ilmu tentang kepenulisan,kita bisa saling berbagi pengalaman,kita bisa berdiskusi untuk pemecahan masalah yang kita temukan,kita bisa saling bantu,bertambah relasi dan networking,serta seribusatu manfaat lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan kita.

c) Sering ikut perlombaan menulis

Kerika kita sudah bersosialisasi dan bergabung dengan orang-orang yang mempunyai pasion yang sama,banyak sekali peluang dan ruang sebagai sarana mengembangkan kemampuan menulis kita.Flyer-flyer lomba yang ada korelasinya dengan dunia kepenulisan kita bertebaran di group komunitas.Bahkan mungkin karena relasi dan jaringan komunikasi kita sudah tersebar,kotak email masuk kita banyak dikirimi flyer-flyer lomba.Dan itu adalah peluang untuk meningkatkan kemampuan menulis.Tinggal bagaimana kita mempertahankan semangat kemauan kita dalam menulis,agar tidak lantas menjadi kendor.

Terimakasih dan semoga bermanfaat!

Salam Literasi!


Mengulik Dimensi Pelajar Pancasila dalam Keseharian Anak-Anak

Dikutif dari http://ditpsd.kemdikbud.go.id/hal/profil-pelajar-pancasila, pengertian dari Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

 
Mengulik Dimensi Pelajar Pancasila dalam Keseharian Anak-Anak
Sumber: Dokumentasi 2021



Mari kita ulik satu persatu dari keenam dimensi pelajar Pancasila tersebut dalam keseharian anak-anak di sekitar kita.

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia

· Beribadah sesuai dengan agama yang di anutnya

· Belajar mengaji

· Mengisi keropak masjid semampunya

· Mengucapkan salam ketika berangkat dan pulang sekolah kepada kepada orangtu dan anggota keluarga yang ada

· Mencium tangan kedua orangtuanya serta orang yang lebih tua ketika bersalaman

· Menyayangi kedua orangtua serta anggota keluarga yang lain

· Berbakti pada kedua orangtua

· Menghormati tetangga

· Menghargai teman

· Berdoa sebelum dan sesudah makan

· Mengucapkan salam ketika bertemu Bapak dan Ibu Guru di sekolah

· Mencium tangan Bapak dan Ibu Guru ketika masuk kelas dan pulang sekolah

· Mengumpulkan sisa uang jajan untuk menjenguk teman yang sakit

· Membantu mengasuh adik

· Sopan santun sama kedua orangtua maupun tetangga

· Berbicara dengan baik dan sopan

2. Berkebinekaan global

· Saling menghargai perbedaan

· Saling menghormati perbedaan

· Berlatih seni dan budaya (Misalnya ikut latihan pencak silat,Jaipongan,serta ikut latihan seni dan budaya daerah lain)

· Bersosialisasi dengan teman yang berbeda Suku,Agama,Ras maupun Adat istiadat yang ada di wilayahnya

3. Bergotong royong

· Membantu orangtua

· Membersihkan rumah (Menyapu lantai,Ngepel lantai)

· Membantu mencuci bersama Ibu

· Mengisi bak mandi

· Membantu memasak di dapur

· Membantu menyetrika pakaian

4. Mandiri

· Mencuci baju sendiri

· Mandi sendiri

· Makan sendiri,tidak disuapin oleh Ibu

· Membereskan kamar tidur sendiri

· Membersihkan kamar tidur sendiri

· Mengerjakan PR sekolah sendiri

5. Bernalar kritis

· Selalu bertanya ketika menemukan sesuatu yang tidak dipahami dan tidak di mengerti baik di rumah maupun di sekolah.

· Peduli dengan kondisi lingkungan di sekitarnya dan berusaha kritis misalnya tidak senang melihat lingkungan kotor baik di lingkungan sekolah maupun rumah dan berusaha membuat aksi dengan membersihkannya.

6. Kreatif

· Membuat mainan sendiri

· Memasak (Dengan bimbingan orangtua) sendiri

· Menatap perabotan rumah

· Menata kamar tidur sendiri

· Menghias kamar tidur sendiri

· Menghias ruang tamu

· Menata taman di sekitar rumah

· Menata ruang kelas

· Menata taman sekolah

· Menghiasi majalah dinding

Demikian hasil ulikan penulis, berdasarkan pada realitas kehidupan anak-anak yang berada di sekitar penulis. Mungkin masih banyak lagi yang belum bisa diulik oleh. Untuk itu silakan para pembaca menambahkan di kolom komentar, untuk menambah referensi bagi penulis serta bermanfaat bagi yang lain.

Terimakasih!Kurang lebihnya mohon maaf. Ini semua penulis tuliskan sebagai bahan untuk menambah wawasan penulis, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi yang lain.

Tulisan ini sudah Pernah Dimuat di beritadisdik.com pada tanggal 14 Juli 2022

Penulis
Suherman Komara
SDN 1 CIRAJA
Founder Komunitas Guru Penulis (TARULIS) Kec. Cipeundeuy

Membangun Soliditas dan Solidaritas

Soliditas dan solidaritas adalah kosa kata aktif, yang sering digaungkan oleh berbagai organisasi maupun perorangan. Apalagi menjelang momen-momen spesial. Misalnya saat memperingati hari ulang tahun berdirinya organisasi maupun diadakannya pertemuan-pertemuan istimewa lainnya. Dua kata ini akan menggema, menjadikannya lebih familiar di telinga. Namun menggemakan saja tidaklah cukup, perlu aksi dan reaksi untuk membangunnya.



Soliditas itu sendiri mengandung arti kompak, atau orang lebih sering menyebutnya dengan kata solid untuk menunjukkan kekompakan sebuah tim atau sebuah organisasi. Soliditas atau kekompakan perlu tetap dijaga agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga. Dengan kekompakkan juga, tujuan sebuah organisasi dapat tercapai dengan baik dan mudah.

Kemudian arti dari kata solidaritas adalah sifat satu rasa, atau perasaan setia kawan. Bahkan orang lebih suka menggunakan kata solider untuk menunjukkan rasa kesetiakawanan mereka. Solidaritas merupakan wujud dari dari rasa kebersamaan untuk mencapai tujuan dan keinginan bersama, karena prinsip dari solidaritas adalah menjaga rasa kesetiakawanan, rasa kepedulian, rasa kepekaan serta kekompakan. Lagi-lagi, kekompakan atau soliditas selalu disandingkan dengan kata solidaritas, karena memang dua kosa kata ini saling mendukung satu sama lain.

Soliditas dan Solidaris begitu mudah diucapkan, namun begitu sulit untuk dibangun. Benarkah?

Ada dua kemungkinan jawaban untuk menjawab pertanyaan di atas. Bisa “Ya” ataupun “Tidak”. Karena pada kenyataannya ada banyak organisasi yang sudah solid dan rasa solidaritasnya tinggi. Tentu, soliditas dan solidaritas yang sudah terbangun seperti ini, adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Sehingga mereka bisa menjadi solid dan rasa solidaritasnya tinggi. Namun, ada juga organisasi yang memang susah solid dan rasa solidaritasnya begitu rendah. Inilah yang akan kita bahas, yaitu bagaimana membangun soliditas dan solidaritas.

Soliditas dan solidaritas dapat dibangun dengan berbagai cara, dari mulai hal yang sederhana namun bermakna, hingga hal yang luarbiasa penuh euforia. Salah satu hal yang sederhana tersebut misalnya adalah bersilaturahmi, baik secara personal maupun komunal.

Dengan silaturahmi banyak manfaat yang didapatkan, misalnya menjaga kerukunan dan keharmonisan. Jika kerukunan dan keharmonisan terjaga dalam tubuh seseorang atau dalam tubuh sebuah organisasi, maka pencapaian tertingginya adalah soliditas dan solidaritas yang diharapkan, juga akan lahir dan terbangun. Kerukunan dan keharmonisan adalah bagian tak terpisahkan dari pengamalan Pancasila sila ke 3 yaitu Persatuan Indonesia.

Berikut beberapa tips untuk membangun soliditas dan solidaritas:

1. Memahami tujuan organisasi
2. Mengetahui,memahami dan melaksanakan Visi serta Misi organisasi
3. Komunikasi yang terbuka
4. Rasa memiliki
5. Saling menghargai perbedaan
6. Kondusif
7. Pelibatan semua anggota organisasi dalam setiap keputusan
8. Pemimpin yang bijaksana
9. Kolaborasi yang baik
10. Mengetahui,memahami dan melaksanakan tugas pokok masing-masing

Itulah beberapa tips untuk membangun soliditas dan solidaritas.


Penulis
Suherman Komara
SDN 1 CIRAJA
Founder Komunitas Guru Penulis (TARULIS) Kec. Cipeundeuy
 
Copyright © 2022 PGRI CABANG CIPEUNDEUY Dioprek Inan Kito.